Selasa, 16 Mei 2017

Teori Uses And Gratification




Tahapan
Pertama: Herta Herzog (1944) berusaha membagi alasan orang melakukan bentuk yang berbeda mengenai perilaku media. Herzog mempelajari mengenai peran dan keinginan dan kebutuhan khalayak.
Kedua: Para peneliti mulai menciptakan tipologi yang mewakili semua alasan yang dimiliki orang untuk mengunakan media.
Ketiga: Peneliti menggabungkan alasan khusus untuk penggunaan media dengan variabel kebutuhan, tujuan, keuntungan, konsekuensi penggunaan media dan faktor individual.

Asumsi
  • Khalayak aktif dan penggunaan media berorientasi pada tujuan yang jelas dalam mengonsumsi media.
  • Inisiatif dalam menghubungkan kepuasan kebutuhan pada pilihan media tertentu terdapat pada anggota khalayak.
  • Media berkompetisi dengan sumber lain untuk kepuasan kebutuhan.
  • Orang punya cukup kesadaran diri akan penggunaan media mereka, minat, dan motif, sehingga dapat memberikan sebuah gambaran yang akurat mengenai kegunaan tersebut pada peneliti.
  • Penilaian mengenai isi media hanya dapat dinilai oleh khalayak.


Khalayak Aktif
Menurut Blumler (1979) jenis aktivitas khalayak adalah:
  • Kegunaan: khalayak menggunakan media untuk menyelesaikan tugas
  • Kesengajaan: motivasi awal yang mendorong khalayak memilih suatu media
  • Selektivitas: Khalayak memilih media dengan menyesuaikan ketertarikan dan pengalaman mereka
  • Kesulitan untuk mempengaruhi: khalayak memiliki atau membuat pemahaman sendiri mengenai isi suatu media yang dikonsumsi


Pengaruh Media
Menurut Katz (1974),  situasi sosial ketika orang terlibat dalam menghasilkan kebutuhan yang berhubungan dengan media adalah:
  • Situasi sosial bisa menghasilkan keteganggan dan konflik yang menuntun pada tekanan, dan untuk meredakannya adalah dengan mengonsumsi media.
  • Situasi sosial dapat meruntuhkan kesempatan hidup yang sesungguhnya untuk memuaskan kebutuhan tertentu dan media bisa jadi obat.
  • Situasi sosial bisa menghasilkan nilai tertentu dengan penekanan yang dapat difasilitasi oleh konsumsi media yang berkaitan.
  • Situasi sosial menuntut kesamaan dengan media, tuntunan tersebut harus dipenuhi untuk mempertahankan keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu.

Review materi Presentasi kelompok Teori Komunikasi Klasik
http://sitikteori.blogspot.co.id/

Jumat, 05 Mei 2017

Teori Kultivasi


Teori kultivasi muncul dalam situasi ketika terjadi perdebatan antara kelompok ilmuwan komunikasi yang meyakini efek sangat kuat media massa dengan kelompok yang mempercayai keterbatasan efek media dan juga perdebatan antara kelompok yang menganggap efek media massa bersifat langsung dengan kelompok efek media massa bersifat tidak langsung atau kumulatif. Teori ini muncul untuk meneguhkan keyakinan orang. bahwa efek media massa lebih bersifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran sosial budaya daripada individua

Analisis kultivasi merupakan tahapan lanjutan dari paradigma penelitian tentang efek media. Kemudian Gerbner dan beberapa rekannya melanjutkan penelitian media massa dengan memfokuskan pada dampak media massa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu temuannya adalah penonton TV dalam kategori berat mengembangkan keyakinan yang berlebihan tentang dunia sebagai tempat yang berbahaya dan menakutkan. sementara kekerasan yang mereka tonton di TV menanamkan ketakutan sosial yang membangkitkan pandangan bahwa lingkungan mereka tidak aman dan tidak ada orang yang bisa di percaya.

Asumsi
1. TV merupakan media yang unik.
2. Semakin banyak orang menghabiskan waktu untuk menonton TV, semakin kuat kecenderungan orang menyamakan realitas TV dengan realitas sosial.
3. Light viewers cenderung menggunakan jenis media dan sumber informasi yang lebih bervariasi. Heavy viewers cenderung mengandalkan TV sebagai sumber informasi mereka.

Perkembangan Teknologi baru memperkuat pengaruh media
Heavy viewers akan mengganggap apa yang terjadi di TV itulah yang terjadi di dunia nyata. Heavy viewers menyatakan bahwa munculnya kekerasan karena adanya masalah sosia dimana TV yang ditonton sering menyuguhkan berita dan kejadian dengan motif sosial sebagai alasan melakukan kekerasan. padahal bisa saja karena adanya keterkejutan budaya dari tradisional ke modern. 

Tidak semua heavy viewers  terkultivasi secara sama karena beberapa lebih mudah dipengaruhi TV daripada yang lain. Jadi meskipun TV buka satu-satunya sarana yang membentuk pandangan kita tentang dunia tapi TV merupakan salah satu media yang ampuh untuk membentuk pandangan kita terhadap dunia.



Review materi Presentasi kelompok Teori Komunikasi Klasik
http://sitikteori.blogspot.co.id/

Kamis, 04 Mei 2017

Teori Agenda Setting


Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw meneliti pemilihan presiden pada tahun 1968 dan menemukan bahwa para penyunting dan penyiar memiliki peran penting oleh publik dengan isu yang ditonjolkan oleh pemberitaan media massa. Khalayak cenderung untuk menilai sesuatu menjadi penting sama seperti media massa mengganggap hal tersebut penting. Teori Agenda Setting merupakan teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dimana kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu yang dianggap penting oleh media massa. Media bukan hanya menjadi media informasi tetapi juga membangun opini publik secara terus-menerus tentang suatu persoalan, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, dan mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan.

Asumsi
1. Media massa punya kemampuan untuk mentransfer agenda pemberitaan menjadi agenda publik. Media berperan sebagai mediator antara dunia luar dan gambar di kepala kita juga ada korelasi yang kuat dan signifikan antara apa yang diagendakan oleh media massa dan apa yang menjadi agenda publik.
2. Apa yang penting bagi media penting juga bagi publik. Audience tidak hanya mempelajari berita dan hal melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting yang diberikan pada suatu isu menarik dan kepentignan relative sehingga tujuan agenda setting dapat tercapai.

Agenda Setter
Orang yang menentukan agenda bagi para agenda setters adalah editor berita atau gatekeeper. Gatekeeper memiliki peluang yang besar untuk menetukan agenda karena berita yang akan disampaikan pada masyarakat pasti di saring terlebih dahulu dan mereka bisa membentuk serta menentukan berita apa yang akan disampaikan kepada masyarakat dan mana yang tidak disampaikan sehingga menjadi praktik agenda setting.

Cara Menjalankan Agenda Setting
Cara menjalankannya adalah denan menggunakan framing. Framing merupakan bagaimana media membingkai suatu berita serta pernyataan bahwa orang menggunakan seperangkat pengharapan untuk memaknai dunia sosial dan media berkontribusi pada pengharapan tersebut. Framing memilih beberapa aspek dari realita yang di terima dan membuatnya menjadi penting pada teks berita.

Framing memunculkan dampak yaitu agenda setting tahap 2. Agenda setting tahap 2 ini merupakan teori baru yang dikembangkan oleh McCombs dimana agenda seting bekerja pada dua tahap yaitu level objek dan level atribut. Media yang mengatur agenda publik pada lapisan kedua yaitu level atribut (bagaimana memikirkan sesuatu), dan lapisan pertamanya adalah lebel objek (apa yang seharusnya dipikirkan).

Hal Yang Mendukung Agenda Setting
1. Kekuatan Presentasi : Pembertaan yang dramatis melemahkan daripada meningkatkan kekuatan agenda setting TV. Berita personal yang kuat ditampilkan berfokus terlalu banyak pada situasi tertentu daripada suatu isu yang sebenarnya.
2. Penempatan Kisah : Berita utama memiliki efek agenda setting yang besar. Orang lain lebih memperhatikan cerita di awal dan jarang muncul gangguan di awal atau orang menerima rancangan implisit dari program berita bahwa berita utama adalah yang paling penting.
3. Priming : Warga yang paling termotivasi tidak dapat menimbang semua hal yang mereka ketahui ketika menilai isu politik yang kompleks.

Jenis Agenda Setting 
Agenda Media : Isu yang dibahas dan ditampilkan dalam media. Agenda media harus diformat dengan memperhatikan jumlah dan tingkat penonjolah berita, relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak, menarik atau tidaknya berita.
Agenda Publik : Apa yang dipikirkan masyarakat. Ada kesamaan antara isu yang dibicarakan atau dianggap penting oleh publik. Apa yang menjadi agenda media akan menjadi agenda publik.


Review materi Presentasi kelompok Teori Komunikasi Klasik
http://sitikteori.blogspot.co.id/

Rabu, 03 Mei 2017

Teori-Teori Komunikasi Massa Klasik dan Kritis





Dalam Teori Klasik, terdapat beberapa teori yang ada didalamnya. Teori - teori tersebut diantaranya adalah Teori Kultivasi, Teori Agenda Setting, Teori Uses and Gratification, dan Teori Jarum Suntik. Untuk lebih jelasnya, klik teori - teori yang terdapat dalam Teori Klasik dibawah ini.

Teori kritis berasal dari aliran ilmu-ilmu kritis yang bersumber dari teori marxis. Dalam teori ini, media mempengaruhi masyarakat melalui konsep budayanya, media mempengarui bagaimana suatu budaya dapat tercipta, dibagian, dan diterapkan. Ilmu ini adalah cabang ilmu sosial yang mendobrak ststus quo, dimana status quo adalah status untuk mempertahankan keadaan yang sekarang seperti keadaan sebelumnya. Teori ini berakar dari asumsi bahwa dalam struktur sosial selalu saja terdapat struktur yang tidak adil, khususnya bagi rakyat miskin dari status quo dan struktur system yang tertindas. Beberapa tokoh yang mempeloporinya antara lain Karl Mark, Engels, George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas, Altrusser, Johan Galtung, Cardoso, Dos Santos, Paul Baran Samir Amin, Hamza Alavi.
Menurut perspektif kritis, komunikasi merupakan suatu hasil dari tekanan antara kreativitas individu dalam memberi kerangka pada pesan dan kendala-kendala sosial terhadap kreativitas tersebut. Hanya jika individu benar-benar bebas untuk megespresikan dirinya dengan kejelasan dan penalaran, maka pembebasan akan terjadi, dan kondisi tersebut tidak akan terwujud sampai munculnya suatu tatan masyarakat yang baru (Sendjaja, 1998).
Dengan menggunakan teori kritis terhadap media diharapkan arus informasi dan berita-berita yang di terbitkan lebih sehat dan tidak memihak kepada yang memiliki pengaruh. Teori Media Kritis atau Media Critical Theory memiliki pengaruh besar dalam menjaga stabilitas informasi yang terjadi di media massa, teori ini memiliki pandangan dan ramalan yang jelas, sehingga Media Critical Theory layak untuk disebut sebagai Teori.
Teori Kritis ini bila dikaitkan dengan surat kabar dan majalah berpacu pada banyaknya majalah dan surat kabar yang mengkomunikasikan mengenai berita yang sangat terstruktur dan tersetting demi mendapatkan profit. Sehingga informasi yang ada di surat kabar menjadi berita mayoritas, sehingga pembaca mayoritas membahas mengenai informasi tersebut. Kemudian kreatifitas seseorang menjadi terhenti karena bahasan mayoritasnya sudah tersetting oleh surat kabar dan media. 
Dalam contoh nyata pers pada masa itu mendapatkan perlakuan yang semu, mereka seperti tidak bernyawa, walaupun dalam hukum terdapat kebebasan untuk berekspresi, namun banyak media massa cetak yang dilarang terbit. Pemerintah memaksa banyak pemilik media untuk menandatangani perjanjian untuk tidak mengkritik pemerintah dan bisnis keluarga kepala negara. Hal itu menyebabkan pers berubah fungsi menjadi instrumen pembangunan yang memelihara ketertiban, harmoni dan keamanan. Pada massa saat ini, karna adanya teori kritis terhadap media diharapkan arus informasi dan berita-berita yang di terbitkan lebih sehat dan tidak memihak kepada yang memiliki pengaruh
Hal ini dapat dilihat dalam kasus majalah Tempo, dimana dalam beritanya, Tempo mengkritik pembelian kapal-kapal itu dilakukan pada 1992 oleh Habibie, yang menjadi masalah mengapa hal tersebut disimpan erat – erat kaerna adanya penggelembungan harga dari 12,7 juta dollar AS menjadi 1,1 miliar dollar AS. Selain itu, ternyata sebagian besar kapal perang bekas itu tiba di Indonesia tidak dapat dioperasionalkan kembali kaerna telah mengalami kerusakan, biaya perbaikannya sangat mahal, dan onderdilnya tidak tersedia. Presiden Soeharto marah besar terhadap pemberitaan Majalah Tempo itu. Mengingat Habibie adalah salah satu anak yang dekat dengan Soeharto, maka atas perintah Soeharto langsung, Menteri Penerangan Harmoko pun memberikan larangan terbit kepada majalah Tempo tersebut (merdeka.com, 2013).
Dari contoh tersebut, dengan  menggunakan teori kritis terhadap media diharapkan tidak terjadi lagi contoh seperti diatas, dimana tidak ada lagi pembertitaan yang diharuskan memihak dan mengupload konten - konten tertentu, sehingga arus informasi dan berita-berita yang di terbitkan lebih sehat dan tidak memihak kepada yang memiliki pengaruh.

Daftar Pustaka
Lestari. (2013). 3 Media Dibredel Soeharto Karena Berita Korupsi Kapal Perang. Diakses pada Agustus, 30, 2013 dari https://www.merdeka.com/peristiwa/3-media-dibredel-soeharto-karena-berita-korupsi-kapal-perang.html
Sendjaja, S. Djuarsa. (1998). Teori Komunikasi. Tangerang: Universitas Terbuka. Diperoleh dari http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/2016/08/08/skom4204-teori-komunikasi/

Jumat, 28 April 2017

Media Komersial vs Media Komunitas








Informasi merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam kehidupannya. Kebutuhan akan informasi kini semakin mudah terpenuhi dengan adanya media-media penyalur informasi yang semakin berkembang dan bergabung karena perkembangan teknologi. Media-media ini kemudian dikelompokkan menjadi dua, yakni media komersial dan media komunitas. Komersial diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan niaga atau perdagangan (profit oriented). Sehingga media komersial dapat diartikan sebagai media yang secara langsung ada/muncul di masyarakat dengan tujuan mencari keuntungan (KBBI, 2017). Sedangkan media non komersial atau dalam hal ini media komunitas memiliki arti yang bertolakbalakang dengan media komersial yakni tidak mementingkan aspek untung dalam kemunculannya di masyarakat.
Kegunaan dan fungsi media komunitas kurang lebih memiliki kesamaan dengan fungsi media massa konvensional yang selama ini dikenal, yaitu untuk informasi, edukasi, pengarah, kontrol sosial, dan hiburan. Namun, media komunitas memiliki kegunaan yang khas sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Bila dilihat dari sudut pandang kepentingan nasional, media komunitas tidak merugikan media swasta yang ada saat ini. Terlebih lagi karena terbatasnya jangkauan wilayahnya yang dimiliki media komunitas tidak akan memberikan dampak yang siqnifikan bagi media komersial (Hermawan, 2008).
Namun, terbatasnya jangkauan media komunitas ini justru diharapkan dapat memberikan layanan yang lebih spesifik dan membuka partisipasi penuh kepada para komunitas karena media ini merupakan refleksi dari apa yang hanya menjadi kebutuhan komunitasnya. Ini berbeda dengan media swasta komersial yang selalu menggunakan logika besaran jumlah penduduk dan potensi ekonomi untuk membuka jaringannya. Akibatnya, daerah-daerah yang miskin dan secara ekonomi tidak menguntungkan tidak akan dilayanani media swasta (Hermawan, 2008).

Contoh Media Komersial vs Media Komunitas (majalah)

Untuk penjelasan mengenai majalah komersial bisa baca di sini
Majalah komunitas yang sering dijumpai yakni majalah yang berlingkup sekolah atau universitas. Contoh majalah komunitas yakni majalah kampus dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pers yang berisi informasi beragam tetapi juga sekilas pasti ada membahas mengenai berita seputar kampus dan sifat majalah itu tidak diperjualbelikan.
 Majalah komunitas termasuk pada media no komersial dimana lebih mengedepankan pengetahuan dan sebagai media promosi komunitasnya tersebut. Namun, majalah komunitas tidak dapat dikatakan menyaingi majalah komersial karena lingkup pembaca majalah komunitas lebih sempit dan hanya pada komunitas tersebut saja. Meski begitu isi konten majalah komunitas juga tidak kalah dari majalah komersial pada umumnya. Hal ini menunjukan bahwa media komunitas dan media komersial memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing dalam berdinamika menyebarkan informasi (Liliweri, 2011).


Daftar Pustaka 
KBBI. (2017). Komersial. Diperolah dari http://kbbi.web.id/komersial 
Alo, Liliweri. (2011). Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Kertajaya, Hermawan .(2008). Arti komunitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Selasa, 18 April 2017

Jenis Film




Ceritera Pendek
Jenis film ini disebut dengan certitera pendek karena biasanya memiliki durasi tayang kurang dari 60 menit. Di beberapa Negara (Jerman, Australia, Kanada dan AS) jenis film ini dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang yang mau membuat film ceritera panjang. Tetapi sekarang ini banyak yang memang secara khusus membuat film ceritera pendek.

Ceritera Panjang
Biasanya film ceritera panjang ini memiliki durasi tayang antara 90-100 menit dan dulu biasanya hanya diputar di bioskop. Namun sekarang juga selain ditayangkan di bioskop tetapi juga diedarkan dalam bentuk disk (VCD/DVD).

Program Televisi
Jenis film ini merupakan film yang diproduksi untuk dinikmati oleh pemirsa televisi. Di jenis ini film dibagi menjadi dua kelompok yaitu ceritera dan non ceritera serta fiksi dan non fiksi.

Video Klip
Jenis ini merupakan sarana bagi produser musik untuk memasarkan karyanya lewat media televisi. Dengan adanya perkembangan maka sekarang video klip diproduksi  secara baik seperti produksi film dengan model video klip menjadi aktris/actor film yang memerankan karakter sesuai isi lagu.


Review materi Presentasi kelompok Film
http://masscommfour.blogspot.co.id/ 

Kamis, 13 April 2017

Peran Film Dalam Ilmu Komunikasi


Menurut Dedy Mulyana (2004)
Pada hakekatnya film merupakan sebuah pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Sedangkan makna tidak terdapat pada pesan melainkan hasil pembacaan atau pemahaman oleh penerima pesan. Dengan demikian, efektifitas film sebagai bentuk komunikasi dapat diukur dengan berbagai cara yang berbeda-beda tergantung pada apa tujuan dari proses komunikasi itu sendiri. Termasuk bagaimana tanda itu dipersepsi oleh penerima atau interpreter sehingga terjadi komunikasi yang efektif.

Denis McQuail (1987) dalam Teori Komunikasi Massa
Fungsi dan peran film dalam masyarakat pada konteks komunikasi ada empat.  Pertama, film sebagai sumber pengetahuan yang menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi masyarakat dari berbagai elahan dunia. Kedua, film sebagai sarana sosialisasi dan pewarisan, nilai, norma, dan kebudayaan. Artinya selain hiburan, secara laten film juga berpotensi menularkan nilai-nilai tertentu pada penontonnya.

Nilai-nilai
Film sering kali berperan sebagai wahana pengembangan bentuk seni dan symbol, melainkan juga dalam pengertian pengemasan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma. Dan yang keempat, film sebagai sarana hiburan dan pemenuhan kebutuhan estetika masyarakat. Pendek kata, menurut UUD perfilman, film mempunyai enam fungsi atau peran:
1. Fungsi Budaya
2. Pendidikan
3. Hiburan
4. Informasi


Review materi Presentasi kelompok Film
http://masscommfour.blogspot.co.id/  

Selasa, 04 April 2017

Sejarah Film


Peristiwa di Grand Café Boulevard de Capucines, Paris, Perancis, merupakan pristiwa yang menandai lahirnya film pertama di dunia, hal itu ditandai dengan dipertontonkannya film berbayar pertama kali untuk khalayak umum, dan hal itu terjadi pada tanggal 28 Desember 1895.

Sedangkan di Indonesia, film pertama kali mucul di Betawi yang kini dikenal sebagai kota Jakarta, dan di kota inilah istilah film pertama kali disebut dengan Gambar Idoep. Gambar Idoep ini dipertontonkan pada warga pada tanggal 5 Desember 1990 dan berlangsung di Tanah Abang, kebonjae. Dan film yang pertamakali diputar adalah sebuah film documenter tentang peristiwa yang terjadi di Eropa dan Afrika Selatan, termasuk documenter politik yang berisi gambar Sri Baginda Maha Ratu Belanda bersama Yang Mulia Hertog Hendrig memasuki kota Den Haag.

Beberapa bioskop yang terkenal saat itu antara lain adalah bioskop Rialto di Tanah Abang (kini bioskop Surya) dan di Senen (kini menjadi gedung Wayang Orang Baratha) dan satu lagi bisokop Orion di Glodok. Saat itu bioskop dibedakan berdasarkan ras. Bioskop untuk orang-orang Eropa hanya memutar film dari kalangan mereka. Sedangkan bisokop untuk pribumi dan Tionghoa, memutar film import dan film produksi lokal. Yang unik adalah sebutan untuk bioskop pribumi, yaitu bisokop kelas kambing karena penonton sangat berisik seperti kambing, yang menyebabkan penonton sangat berisik adalah dikarenakan film yang di produksi pada masa itu tidak bersuara dan disebut sebagai film bisu, dan film bicara muncul dan diputar pertama kali di Indonesia pada akhir tahun 1929 dengan judul Fox Follie dan Rainbouw Man. Film produk lokal yang diputar pertama kali di bioskop pribumi berjudul Loetoeng Kasaroeng pada tanggal 31 Desember 1926 dan diputar selama satu minggu hingga tanggal 6 januari 1927.

Pada tahun 1931. Pembuat film lokal mulai mencoba memproduksi film bicara. Percobaan pertama antara lain dilakukan oleh The Teng Chun yang menggarap film perdananya bertajuk Bunga Roos dari Tjikembang. Hingga diatas tahun 1934, munculah nama Albert Balink yang tercatat sebagai orang pertama yang memproduksi film lokal yang sangat laris, dengan judul Terang Boelan.

Pada tahun 80'an, produksi film mulai meningkat dari tahun – tahun sebelumnya menjadi 721 judul film. Begitu juga dengan jumlah aktor dan akris yang juga meningkat pesat. Tema-tema komedi, seks, seks horor dan musik mendominasi produksi film di tahun-tahun 80'an. Sejumlah filmpun sukses besar dalam meraih penonton, Film Catatan Si Boy dan Lupus bahkan dibuat beberapa kali karena sukses meraih untung dari jumlah penonton yang mencapai rekor tersendiri

Dan kini, film Indonesia telah mulai berderak kembali. Beberapa film bahkan booming dengan jumlah penonton yang sangat banyak. Seperti Ada apa dengan Cinta 2, yang membangkitkan kembali industri film Indonesia. Beberapa film lain yang laris manis dan menggiring penonton ke bioskop seperti Hangout yang diproduseri oleh Raditya Dika, Stip dan Pensil, maupun Cek Toko Sebelah yang diproduseri oleh Ernest Prakasa.

Dengan banyaknya variasi dalam berbagai genre film , itu memberikan kesempatan media film menjadi sarana pembelajaran dan motivator bagi masyarakat.



Review materi Presentasi kelompok Film
http://masscommfour.blogspot.co.id/